Love Yourself

this gorgeous picture is taken from cyberextazy.wordpress.com

I'm in love. I'm opening up my heart, and suddenly I just remember her. Madonna.

People around me used to laugh when I said that Madonna is my idol. In Indonesia there many people think that Madonna is nothing but a bitchy figure, so I think that automatically I will look a little bitchy when I mentioned my name in my idol list. An extreme example, one day I edited a short video clip for disaster risk reduction education project for primary schools and I put a cut from Isaac, Madonna's song there. A 11 year old student stood up after he read the subtitle mentioning Madonna's name there. "You should not put Madonna's song in education video for us. She's not a good woman!" Ouch...

I remembered how I first found an article on Madonna. I was an elementary school student who had not even turn to 10 yet. I was impressed by the pictures. I loved to see her expression. She looked strong and gorgeous. Deeper than that, the article was about how hard she tried to reach her dream. It was when she couldn’t even afford to rent a flat, when she stripped to make money, when she was in the way of finding her image for public. I found her beautiful and strong, even at that time she likely tried too hard to look like Marilyn Monroe.

I really didn’t care about her voice that some people at that time mentioned to sound like Minnie Mouse. I didn’t even understand the meanings of her songs as English was still far away from my memory. I just found her great and cool, and in a way I wanted to be as brave as her.

It is an almost utopia for a Javanese girl like me to dare to be different, to expose myself as much as Madonna. I give my two thumbs up for her guts-exposing her sex appeals, being condemned and never give a damn of it. Self esteem is I think the key word of all. And that is the thing that I want to possess always. I want to be as brave as her, showing whatever I am and just let the world, as usual, judge me, but I will go on, brighter, flying higher. I was born not to be as extreme as her, but there are many things that I want to reveal without hesitation.

Life is a paradox, just like what is mentioned in Like It or Not. The things that some other people hate might be what the others love best. Listen to Like It or Not,

“this is who I am, you can like it or not, you can love me or leave me coz I’m never gonna stop”.

That is the thing that I want to say always. I wanna have my personal style and people hate me or love me all the way I am. Some narrow minded persons would call it selfish, but some wider minded person would call it personal choices that will color up plurality.

I think Madonna and I look bad for some people to push the idea of like it or not, when you see only the above paragraph. But some people forget that she also has another dimension that I love: her hard work. She’s a living reminder that we can gain nothing if we don’t sweat. But hard work means more than that. It takes a brain. Creativeness, energy, management: see how Madonna never produced something boring. She knows how to innovate. She knows how to be good, in music, lyrics or looks. She knows how to manage all resources she needs, arranger up to the dancer, make up artist up to promotion. She can sing, she can dance, she can write, she can make story books for children. Tell me, how many people in this world can do the same thing as her?
She’s a mother, a wife, a believer, and above all, she looks good. She knows how to love her body and soul. And I think, many times I have said that I wanna be in her shape when I turn 40. :p

She concerns about her environment. As brave as when she says her revenge in “You’ll See”. She makes me feel stronger. I am a woman with self-esteem. I wouldn’t cry for things that I can get better in very near future. That is I think, the way I learn to stand up again quickly after I fall. She never taught me to dream too high, but she tells me exactly how to stay tough. :)

And why I feel that I’m so much in love again with her tonight? I’m finding back love in my life, and as it is said in Something to Remember,

"...We weren't meant to be, at least not in this lifetime,
But you gave me something to remember
I hear you still say, "Love yourself...."

I got it. That's the idea of all her songs, of all the messages, of all the strengh. Love yourself. (thanks also for my Habibi, for teaching me how to walk on that idea)

Simeulue, Gempa Ayunanmu...

map source: USGS

Banda Aceh, 20 Februari 2008, 15:08 WIB. Bumi bergoyang lagi. Ini bukan kali pertama bumi bergoyang kencang selama aku tinggal di Aceh, tapi gempa kemarin itu terasa cukup lama. Aku sedang bersama teman-teman dari pemerintah provinsi, lembaga-lembaga UN, palang merah dan NGOs di tengah sesi diskusi workshop disaster risk reduction in Aceh di aula pertemuan kantor gubernur.

Practically, semua yang ada di dalam ruang pertemuan itu adalah praktisi pengurangan risiko bencana. Reaksinya pun bermacam-macam. Ada yang langsung menjauh dari jendela kaca, mendekat ke pilar, duduk dan memandangi lampu kristal yang bergoyang-goyang, berlindung di bawah meja. Dan aku, tetap duduk di kursiku sambil memangku laptop. Selain berusaha tetap kelihatan cool, aku juga malas beranjak karena biasanya gempa akan segera berhenti. :p. Which was wrong. Gempa semakin kuat, bumi bergeser ke kanan dan ke kiri, maju mundur, semakin kencang dan kuat. Akhirnya, semua langsung keluar dari ruangan, mengevakuasi diri ke lapangan.

Tanah masih terus bergoyang, sampai aku merasa pusing dan sulit berdiri tegak. “Pose” paling aman yang kupilih adalah duduk di atas bongkahan beton sisa tsunami, memangku laptopku.
Di sini sering terjadi gempa, tapi yang kemarin adalah yang paling kencang yang pernah kurasakan. Serem juga… Sudah tiga kali aku melewatkan gempa besar. Saat itu aku sedang tugas ke Jakarta, lalu di saat lain aku sedang liburan di Semarang, lalu di bulan November 2007, aku sedang di Bangkok. Saat aku kembali ke ruang rapat, aku bertemu reporter Sinabang FM yang pernah kutawari untuk ikut training pengurangan risiko bencana. Wajahnya sedih banget, menyampaikan bahwa Sinabang (ibukota Kabupaten Simeulue) ngga bisa dihubungi…

Setelah itu orang-orang PMI yang ikut workshop langsung sibuk dengan radionya. Koneksi telepon ke Simeulue putus total.
Di SATKORLAK, aku langsung melihat RANET Tsunami Early Warning System network. Hatiku langsung sedih banget begitu lihat di system kalo gempanya adalah gempa darat. Sudah terbayang pasti ada korban, dan ternyata benar. Ingat bahwa gempa Jogja 2006 berskala 6.3 SR. Sekarang, Simeulue itu pulau kecil, dan dihajar gempa 6.6 SR. Kebayang kan?

Sedihnya lagi, di malam hari saat nonton Suara Anda di Metro TV, ngga ada satupun yang memilih berita gempa Sumatra. Yang dipilih malah berita tentang mantan direktur BI, krisis listrik di Jawa dan gedung berputar di Brazil. Padahal aku dan temanku ngebela-belain ngga pulang-pulang dari kafe itu biar bisa nonton beritanya. Ternyata memang bener ya, kalau kita tinggal di Jawa kita melihat Indonesia dengan mata yang berbeda… very often, not as an entity.

Malam aku berusaha menghubungi seorang kepala sekolah dan murid SMP yang Oktober 2007 kami ikutkan ke workshop disaster risk reduction di Bangkok. SMS ngga terkirim, ditelpon juga masih belum bisa. Sedih banget rasanya…

Pagi ini e-mailku terisi data korban terbaru dari PMI, Harian Serambi Indonesia menyebutkan 3 meninggal dan 49 luka-luka, plus foto-foto kepanikan dari Meulaboh dari seorang teman UN di Meulaboh dikirim ke mailing list UNDP ERTR. Teman di SATKORLAK pagi ini berangkat ke Sinabang dengan pesawat Cassa untuk assessment bantuan yang diperlukan bersama jajaran MUSPIDA. Tapi sepertinya nun jauh di Jawa sana, gempa ini cukup sepi dari perhatian ya?

Sekarang aku semakin tahu rasanya jadi penduduk di pulau luar Jawa. Apalagi Simeulue adalah pulau kecil yang kalau penduduknya mau ke Banda Aceh, ibukota provinsinya, aja harus nunggu pesawat yang terbang 2x seminggu, atau naik ferry 2 hari…

Anyway, penduduk di sana sudah terbiasa hidup dengan gempa. Tadi malam aku bicara dengan Ibu Suraiya, Ibu Kos-ku yang cerdas dan baik hati. Kata beliau, Simeulue sering sekali dilanda gempa. Tahun 2002, di atas 7 SR, lalu 2004 dan 2005, di atas 8 SR, lalu tahun lalu, di atas 6 SR. Hampir bisa dipastikan bahwa tiap tahun mereka dilanda gempa di atas 6 SR.

Meski demikian, saat wilayahnya cukup parah dilanda tsunami 2004, hanya 7 orang yang meninggal, karena mereka punya budaya mengenali dan menyelamatkan diri dari Smong, alias tsunami – bahwa kalau ada gempa besar, mereka harus langsung lari ke gunung. Sampai-sampai sajak tua di sana bertutur, “gempa ayunanmu, smong air mandimu…” (serem ya?)

Ilmu menyelamatkan diri ini sudah didata sebagai salah satu kearifan lokal yang dikenali oleh UNESCO dan UN-ISDR (badan PBB untuk pengurangan risiko bencana). Untuk itu tahun lalu aku dapat tugas “berburu” satu orang guru dan satu orang siswa dari Simeulue untuk datang dan bicara di Konferensi PBB tentang Pengurangan Risiko Bencana untuk Asia Pasifik di Bangkok itu…

Local wisdom, atau kearifan lokal, bila terus dijaga sebagai living culture, memang biasanya membuat manusia lebih akrab dengan “bahasa alam”. Jadi saat alam “bicara”, mereka akan tahu bagaimana meresponnya.

Pagi ini SMS dari Bebi, siswi dari Simeulue yang mewakili Indonesia di Konferensi itu, baru masuk ke HP-ku. “Bebi masih di dekat gunung mbak… Gimana Banda?”
Ah, Bebi, sempat-sempatnya bertanya soal Banda.
Gempa memang ayunanmu; Semoga Tuhan selalu melindungimu….
Amiin.

Dari Februari ke Februari

Fast track: itulah satu-satunya kata yang muncul di kepalaku saat berusaha mencari istilah yang tepat buat menggambarkan satu tahun di Aceh.

Satu tahun ternyata tak terasa lama. Dari bulan Februari 2007 sampai ke Februari 2008 hari-hariku sangat penuh terisi dengan berbagai pekerjaan, pengalaman baru, persahabatan, meski ada juga cerita-cerita yang ngga begitu asyik buat diceritakan. Tapi hidup memang begitu kan? :)

Sebagai Liaison Associate di "Big Blue Nations", aku mulai dari nol, tanpa satupun kontak ada di daftar buku alamatku. Hari ini, hampir semua jalan yang kubutuhkan telah terbuka lebar. Banyak pula tempat baru yang bisa kudatangi. Teman baru, rumah baru, dan hobi baru juga terdaftar di agendaku.

Ini statistiknya...
Keluarga:
1 adik ipar baru :D
Puluhan sepupu baru yang tersebar mulai di Bangladesh, Canada sampai Mauritius

Project:
1 project besar, yang di dalamnya aku mengerjakan kegiatan-kegiatan hubungan masyarakat dengan stakeholders eksternal ataupun internal dan informasi publik. Susah mengingat berapa pastinya jumlah rapat yang kudatangi, tapi aku yakin, jumlahnya lebih dari 100. 2 iklan layanan masyarakat di TV, 2 iklan layanan masyarakat di radio, 10,000 lembar materi informasi publik, puluhan banners, satu training buat wartawan, satu event pengurangan risiko bencana, 150 anak peserta lomba gambar, dan kepercayaan, dari teman-teman CSO maupun bapak-ibu di pemerintahan, yang tidak bisa terukur dengan angka...

Kantor:
3x pindah kantor, dari UNDP di Jl. Kesatria, lalu ke kantor di Jl. Bhakti, dan sekarang di Kantor Gubernur, Jl. T. Nyak Arief... seru kan? :)

Teman kerja:
5 orang resign dari unitku dalam setahun ini. Turn over yang luar biasa kan? sekarang akulah yang paling lama ada di unit DRR! ckckck....

Driver:
3x ganti driver juga... Bang Ismadi, Ridha, sekarang Bang Zulfaqa

Rumah Kost:
3 kali pindah juga, dua pertama diakhiri dengan pengalaman buruk, mulai dari pelecehan sampai motif materialistik. Alhamdulillah, yang sekarang baik banget.

Makanan kesukaan baru:
Ayam Tangkap, Ikan Bakar Awak Away, Sup daging Langsa, Kepiting Goreng... :p Nyam!

Berat Badan (langsung berhubungan nih...)
Nambah 3 kilo

Tinggi Badan:
Sayang ngga nambah-nambah...hehehe...

Hobi Baru:
Main ke laut, berenang (pakai pelampung pastinya) di laut, lari-lari di pantai, nonton DVD kalau lagi ngga bisa bobo malam-malam, snorkeling, karaoke (ini hobi baru atau lama yak?), makan kepiting rame-rame di Rex

Pulau Baru:
Pulau Weh, Ryukyuu, Samosir, Nias, Rubiah

Traveling for Duties:
Sabang, Meulaboh, Nias, Medan, Jakarta

Traveling for Pleasure:
Pulau Weh dan sekitarnya, Okinawa - Jepang, mampir di Hongkong dan Taiwan, Medan, Parapat - Toba - Samosir, Berastagi, KL, Bangkok, Ayyuthaya, Aliran Chao Praya, Dhaka - Bangladesh, Jakarta, Jogja (duh, kalau lihat begini banyak jalan-jalannya, kapan dong kerjanya? :D)

Koleksi Baju:
500% peningkatan jumlah baju lengan panjang, rok panjang, celana longgar dan, tentu saja, kerudung!

Yang jauuuhhh berbeda:
No longer within my French love story
I feel happier
I feel more positive
Aku ngga lagi sering merasa kesepian


Yang tetap sama dari dulu:
Cita-cita untuk membuat Indonesia jadi tempat yang lebih baik buat semuanya.
Menikmati hidup dan segala kesempatan yang ada dengan penuh rasa syukur
Kerja lembur, demi hasil maksimal

Dan berikut, foto-foto dari hari-hari indah dari Februari ke Februari... :)


My sista's wedding, Okinawa - Japan, March 2007

Okinawa Ocean Park, March 2007 (my 4th visit to Japan!)


Still the friends of mine! (my SSEAYP Family...)

I'm living in tsunami zone now..

Speed boating from Samosir Island, Toba Lake

Beautiful Toba and Samosir

Terbang ke Nias dengan UNHAS, pesawat PBB


Mendongeng bersama Agus PM Toh :)

Saturday Morning Biking (alias pit-pitan..hehehe..) to Ujong Batee

di Chao Praya

Ayyuthaya (Mmm... Borobudur jauh lebih bagus sih...)

Kantor Regional PBB, Bangkok

Akhirnya, bisa juga naik ke Sky Bridge Petronas Tower!


Resepsi adikku di Dhaka, Bangladesh. Yahooo, ini pertama kalinya aku pakai saree!


Charming villagers di Savar...

Sista hug! (di belakang itu gedung parlemennya Bangladesh)


Ladang mustardku yang pertama


Sunset di nol kilometer Indonesia

Nol kilometer di kakiku :)

Belajar snorkeling lagi di pulau Rubiah (makasih banyak ya Kur...)


Di perairan Pulau Weh




kunjungan menteri dari Afrika Selatan di Ulee Lheue


I am not an Acehnese but I am proud to introduce Aceh..


"Selamat datang di Masjid Rahmatullah, Lampuuk,
satu-satunya bangunan yang masih tegak berdiri di desa ini meski dihajar tsunami"


Bareng Ibu Gubernur. Cantik ya!


ternyata meski sudah di Aceh masih nge-MC juga...
(Meligoe, 4 Februari 2008, tepat setahun setelah aku tiba di Aceh)



Aku, merasa bersyukur,
Allah memberi banyak warna indah di hidupku.
Alhamdulillaah...