Jalan-Jalan Lagi...

Liburan kali ini aku kembali belajar tentang negara kita tercinta. Thanks to my hubby wanna be, yang mau-maunya travelling dengan segala cara, mulai naik bis antar kota yang udah reot, ferry yang telatnya amit-amit sampai perahu kayu tanpa atap, atau lari-lari di tanjakan sekitar Malimbu Lombok saat aku gak kuat tancap gas dengan motor sewaanku. Dengan begitu aku melihat sisi lain Indonesiaku.

Dalam tiga minggu aku ada di Jakarta, Semarang, Klaten, Jogja, Solo, sebagian Bali dan sebagian Lombok. Sekarang sih baru terasa pegel-pegelnya, tapi aku beruntung banget, bisa menemukan banyak pengalaman baru.

Pertama, aku nggak menyangka kalau upaya fundraising dari karyawan Disneyland dan teman-teman kami di Perancis buat korban gempa mendapat sambutan hangat. Yang paling mengharukan adalah sampai-sampai anak-anak karyawan Disney ikut-ikutan nitip sebagian uang saku mereka ke orangtuanya, dengan pesan, "tolong belikan mainan atau alat-alat sekolah buat teman-temanku di Indonesia..." Mau tahu, berapa umur donatur termuda di "friends for java" network?

Umurnya 3 tahun. Namanya Arthur. Aku bertemu dengannya saat belanja di commercial centre Val d'Europe April lalu. Dia pemalu, tapi saat mamanya bercerita tentang anak-anak yang kehilangan rumah, dia ikut sedih dan menitipkan 60 sen buat project persahabatan ini...
Nah, sementara donatur tertua adalah Mamie, nenek Jeff dari pihak Papa. Umurnya sudah 94 tahun. Heuuu...umur 94 nanti kita masih bisa beramal gak ya?

Kedua, Minggu lalu saat teman-teman psychological healing dari PMI berbaik hati memberikan kesempatan buat melihat kegiatan mereka di kecamatan Wedi, Klaten, aku baru tersadar kalau ternyata aku lebih mengenal tanah kelahiran ayahku sekarang, dibandingkan saat semua bangunan masih berdiri tegak dan utuh.
Sekarang aku bisa bercerita, "itu dulunya SD Baturan 1 dan 2", atau, "itu dulunya balai desa"... setelah semua runtuh dan lebur bersama tanah yang mengering di kemarau ini.

Ada satu perasaan yang menyesak setiap kali aku datang ke daerah bencana: Rasanya apapun yang kita bawa tak pernah terasa cukup. Melihat rumah yang masih rubuh, melihat bekas-bekas jahitan di luka-luka para pengungsi, melihat anak-anak yang belajar dan bermain di bawah tenda... Rasanya aku ingin bisa membuat semuanya utuh seperti semula.
Maafkan kalau ini terdengar naif, tapi betul-betul, di saat-saat pemandangan itu terpampang di pelupuk mata, saat tanganku mampu meraba rekahan dinding yang terpuruk di bumi, sungguh aku ingin jadi manusia super power...I wish at least I was Bill Gates... not in the side of having Microsoft, but more to be with his foundation, of course.

Juga saat melihat tenda-tenda pengungsi Merapi. Sedihnya membayangkan perasaan was-was para penduduk di sana selama lebih dari sebulan ini. Siap mengungsi di sore hari, harap-harap cemas, berdoa biar tanah dan rumah nggak hancur dilalap sang wedhus gembel saat harus tidur berdesakan di tenda yang dingin. Hiks. Betul-betul, negeri kita lagi prihatin...

Ketiga, I found my old extacy back. Nikmatnya makan di dapur umum PMI, bermain bersama puluhan anak di desa-desa, ngobrol dan bobo bareng relawan lain di bawah tenda... kabur dari tenda dan pacaran diam-diam saat semua sudah tertidur.. (ups...) jalan bedua di sepanjang sawah desa jam 3 pagi cuma buat melihat Merapi yang melelehkan lavanya pelan-pelan dalam gelap, sampai melintasi batas larangan jalan menuju ke puncak Merapi, duduk berjam-jam di bekas lokasi penambangan pasir yang cuma 6 km jauhnya dari puncak, dan bermain dengan Nikon D-70nya Jeff untuk mengambil foto-foto lava pijar....

Keempat, semakin banyak travelling sebagai turis biasa (bukan sebagai luxurious tourist yang diantar-jemput dimana-mana) bikin aku melihat banyaknya "lubang" sekaligus keunggulan di dunia pariwisata kita.

Aku sedih dan malu saat menemukan banyaknya orang nggak jujur yang betul-betul menganggap turis (terutama turis asing) semata-mata sebagai sumber duit, bukan sebagai manusia biasa yang juga butuh liburan yang tenang dengan rasa aman. Aku sedih melihat mereka memakai alasan kemiskinan sebagai satu-satunya justifikasi mengapa mereka berusaha menarik untung sebanyak-banyaknya. Lucunya lagi, ada yang menawarkan komisi buat aku kalau aku bisa bikin Jeff beli paket yang mereka jual... lah, who did they think I am ya?

Banyak juga yang bilang, "mbak kan orang Indonesia, seharusnya mbak bantu kami dong, cari untung..."

Waduh. Padahal aku tuh orang yang paling ga bisa dan ngga suka nawar. Meski begitu, aku juga tahu dong, harga yang wajar dan nggak.... Orang asing, tanpa dikasih tau juga juga tahu duluan mana yang wajar dan nggak, bukankah ada Lonely Planet, Hatchette, dan buku-buku lain yang sejenis, yang menulis info lengkap dengan update situasi tahun demi tahun tentang apa yang ada di negara kita?
Gimana mau berharap turis mo balik lagi kalau begitu caranya?

Kebayang dong, misalnya saja saat naik ferry kita (dan turis-turis asing lainnya) di-charge Rp. 150.000 per orang, sementara saat sudah di kapal aku ngobrol bareng penumpang lain dan menemukan kalau penumpang lokal (yang sudah tahu) cuma membayar Rp. 30.000 per orang! Ironisnya lagi, ada polisi yang melihat semua transaksi itu di Padangbai, and, he said nothing!

Kebayang dong, betenya saat petugas hotel bilang kalau dengan Rp. 300.000 private boat yang telah menyediakan alat-alat snorkeling akan menjemput di dermaga belakang hotel, mengantar kita dari Senggigi ke pulau-pulau cantik Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air, tapi ternyata kita harus jalan 1 km ke pelabuhan umum, membayar lagi sewa alat-alat snorkel, bahkan perahu pun nggak menyediakan life jacket sehingga kita harus sewa lagi.... dan selalu begitu, semua tidak dibicarakan di awal, tapi saat kita sudah dalam perjalanan, seperti jebakan. Dan hampir tiap hari aku menemukan hal-hal seperti itu.

Semua orang di sekitar hotel selalu memaksa kita naik travel service dengan embel-embel "sama kok, kaya naik taxi." Kenyataannya, sampai Selaparang aja mereka minta 50 ribu, padahal saat pergi bareng temanku, Lia, sampai ke Cakra (yang jauh lebih jauh dari Senggigi-Selaparang), argo taxi kita cuma menunjukkan angka 40 ribu...

It's not about the money. It's about the honesty. Ini juga masalah etika mengelola sebuah tempat dengan objek wisata potensial. Gimana kita mau merasa nyaman kalau kita tahu bahwa orang-orang di sekitar kita ngga jujur? Apalagi ditambah mereka memaksakan apa yang mereka mau, dan bukan apa yang kita mau.

Meski begitu, banyak foto indah yang berhasil kita ambil dari bumi Lombok yang cantik ini. I'll put it in pretty places page, tapi dalam seminggu lagi mungkin. Koneksi internetnya lagi payah nih...

Sejauh ini, Jogja adalah tempat yang kutemui PALING profesional dalam menjamin kenyamanan turis. Nggak cuma staf di hotel berbintang, tapi sampai ke tukang-tukang becak dan para pedagang di Beringharjo membuat kami merasa nyaman.

Mungkinkah daerah-daerah selain Jogja butuh pendidikan tentang etika pariwisata?
Ternyata negeri kita tak cuma kurang berpromosi, tapi juga tak sanggup membuat orang ingin kembali ke bumi yang indah ini...

Just to think. Maybe not too hard.
How can we start to overcome this problem?
Gimana caranya membuat para pendatang ini merindukan Indonesia?
Bagaimana caranya bikin mereka jadi pengunjung fanatik yang selalu ingin kembali ke Indonesia, tanpa takut ditipu orang, tanpa takut bom, tanpa takut dikerjai?
Hm... hope it's not too late to change.

Where Have I Been...

It's been oh-so long time not to write. Even just to check my blog and read the comments, the internet connection around me are fast enough to prevent me for finding blank pages.

Thank you very much for all comments and messages... it's also a big surprise to find my favorite french teacher, Beatrice, drop a message in my shoutbox! Merci beaucoup, Beatrice!

Where have I been so far...
Well, right after arriving at Sukarno-Hatta International Airport at the beginning of May, I fought some bad guys who tried to catch Indonesian Labours coming back from Abu Dhabi... I think it was my biggest fight in public space. I was very angry to see how they ran after 5 Indonesian workers, took control on their trolley and tried to fool those girls to follow them to "special door" for Indonesian labours, where they would be asked for money for nothing but horrible transport service by bus to central java and more money to have their meal on the way, and more money for every other little things...
Those girls were frightened. For them coming back to Indonesia is like a scary war to win, with too many bad guys welcoming them at the airport. And none powerful has ever overcame their problem. At that day, in front of my eyes, I saw illegal porters asked for Rp. 50.000 from each person just to carry their trolley from the ground to the first floor of the airport...

Just the first day back, and it's already so dramatic.
Another story follows. Soon, of course.

A Day in Gantiwarno


This is the pictures of the landscape. Notes for pictures clockwise:
1. The hills and ricefields. Klaten is a beautiful place with this typical view of hills and green lanscapes. Before the disaster, under the hills you could see many houses, but now there are only ruins.
2. The main road towards the districts of Gantiwarno and Wedi cracks due to the earthquake. The little girl sitting near the wall was a refugee who was on the way back from donation center. She was taking a rest after a long walk with heavy bags filled with foods and fresh water. The ruin next to her was a little house that collapsed during the earthquake.
3. The neighbourhood. This is the picture taken from the front yard of my grandmother's house. Even my motorbike couln't pass on the road. It was full of collapsed brick wall. See also the houses behind the trees. All fell down...
4. This ruin was two elementary schools and a kindergarten. Children couldn't go to school, they don't know until when.


27 May 2006, 05:56 a.m., Western Indonesia Time (GMT+7)
The earthquake in 5.9 Richter scale shocked three provinces in Java: Central Java, Yogyakarta and East Java.
The earthquake already took 5,196 lives, injured nearly 30,000 people and destroyed more than 200,000 houses and public facilities. (www.mediaindonesia-online.com, 29 May 29, 2006)
One of the most severed towns is Klaten, my father’s hometown. It is the 3rd town with most victims (685 died) and 75,000 people lost their homes. Most of the victims of the disaster are now homeless, with minimum health services, minimum food and clothes. The roads to go to disaster area are split by the tectonic cracks. The condition is worsened by the lower popularity, poorer access and less health services compared to the other severed area.