CINTA 6 JAM...(1)

Hi,
pernah baca novel Andrei Aksana, "cinta 24 jam"?
5 tahun lalu mungkin aku bilang kalau itu tidak mungkin. Tapi hari ini aku tersadar kalau cinta bisa terpercik di ranah hati, tumbuh dan memuncak hanya dalam 6 jam saja...
Kisah Metro No. 13... cerita di hari Sabtu dan first sight yang berlanjut di jalan-jalan sepanjang kota Paris, saat hujan turun separuh, berbagi dengan matahari sore di sisi Pantheon. Aku ingin bilang kalau mungkin ini kesalahan kota cinta, tapi sesungguhnya tak ada yang salah dari cinta. Hanyalah ruang dan waktu yang membuatnya terasa janggal, tapi apalah arti kejanggalan saat hati demikian kuat menginginkan dan menggerakkan syaraf ini?
Malam itu, 5 jam setelah pertemuan pertama, kami duduk di cafe bernuansa Arab, dan dia bercerita tentang sepotong masa kecil di sudut Sahara, saat secangkir kecil teh beruap mint kuteguk pelan-pelan. Sekilas pandangan, dibawah temaram lentera-lentera dan dikelilingi bahasa yang terdengar begitu asing, tiba-tiba dia berkata, "aku sungguh ingin menciummu saat ini..."
Tak ada yang kulakukan selain tersenyum dan merasa aneh, namun 1 jam berikutnya, bibirku telah merengkuh bibirnya di sudut Jardin du Luxemburg, di bawah purnama.
Begitu sederhana, dan tiba-tiba saat hujan tercurah di hari berikutnya, kami telah berpelukan di Champs Ellysee, berlarian dan memercikkan air di paving jalan-jalan kota, lalu melewatkan separuh malam di apartment mungil di sudut kota Pantin.
Aku menatap matanya, dan serasa baru saja dia berkata bahwa kami adalah sepasang pendosa yang jatuh cinta, tiba-tiba saja jam di Charles de Gaulle menunjuk di angka 1 siang dan aku harus berlarian di koridor bandara untuk segera kembali ke Indonesi.
Mawar putih darinya tertinggal di Saint Ouen, hangat pelukannya terjejak di sisi sungai Seine. Aku masih ingat caranya menatapku, namun semua telah berlalu seiring musim yang membasuh jejak-jejak kaki para pelarian cinta di Saint Michel.
Begitu pula cinta...